Tuesday, May 31, 2005

BERMAIN-MAIN DENGAN KATA

NEGERI SERU

seru
seru seruan
seru seruan seteru
seru-seru seruan seteru-seteru
seru-seru seruan-seruan seteru-seteru
seteru-seteru seru seruan-seruan seru-seru
seteru-seteru seru seruan-seruan saru-saru
seteru-seteru seru seruan-seruan sare-sare
seteru-seteru seru seruan-seruan sara
sari seruan seteru sara sare saru
seruan seru-seru seteru-seteru
seruan seru seteru-seteru
seruan seru seteru
seruan seteru
seteru
seteru
seteru
seteru
seterusnya hanya konflik!

-------------------------------------#1

ANGAN BERINGIN

angin angan ingin
berangin berangan beringin
angin berangin angin berangan angin beringin
angan berangin angan berangan angan beringin
ingin berangin ingin berangan ingin beringin
berangin ingin berangan ingin beringin
ingin berangan ingin beringin
berangan ingin beringin
berang ingin beringin
ingin beringin
tumbang!

Rewrite in sweetriver, 21 Juli 2004

-------------------------------------#2

PUISI BURU SIPU BARA

puisi
puisi sipu
puisi sipu sapu
puisi sipu sapu sepi
puisi sipu sipu sapu sepi
puisi sipu sipu sapu sepi sepi
puisi sipu sipu sapu sepi sepi sapa
puisi sipu sipu sapu sepi sepi sapa sapa
puisi sipu sipu sapu sepi sepi sapa
puisi sipu sipu sapu sepi sepi
puisi sipu sipu sapu sepi
puisi sipu sapu sepi
puisi sipu sapu
puisi sipu
puisi

Night Tower, 24 April 2003

-------------------------------------#3

BARA BURU RABA

bara raba bara raba bara raba raba
bara buru bara buru bara buru buru
buru bara buru bara buru bara bara
buru raba buru raba buru raba raba
raba bara raba bara raba bara bara
raba buru raba buru raba buru buru
bara bara buru raba buru raba raba
raba raba buru bara buru bara bara
buru buru raba bara raba bara bara
bara bara raba buru raba buru buru
raba raba bara buru bara buru buru
buru buru bara raba bara raba raba
bara buru raba raba buru raba bara
raba bara buru buru bara raba raba
buru raba bara bara raba buru buru
:rubuh

Night Tower, 24 April 2003

-------------------------------------#4

DIAM-DIAM DI AMBALAT

diam
diam diam
diam diam diam
diam diam diam bala
diam diam diam bala tentara
diam diam diam balatentara
diam diam di am balatentara
diam diam di am balat entara?
diam diam di ambalat entar?

Sweetriver, 15 Maret 2005

-------------------------------------#5

PESAN LELUHUR

jangan diam diam ambal ambil ya...
jangan diam diam ambil ambal ya...
jangan diam diam ambil ambalat ya...
Enak aja!

Sweetriver, 15 Maret 2005

-------------------------------------#6

BBM

Indonesia Raya
Bahan Bakar Melonjak
Barang Barang Mahal
Budi Bahasa Menurun
Barisan Barisan Massa
Berbondong Bondong Menjarah
Bergejolak Bunuh Membunuh
Bergemeretak Bakar Membakar
Bandit Bandit Merayap
Berita Berita Menyesatkan
Bisikan Bisikan Menghasut
Bara Benci Menggelora
Bersemangat Berpisah Merdeka
Bom Bom Meledak
Biduk Bangsa Mengapung
Bergemuruh Badai Menghadang
BBummmM!
Puiiiiiiiing....

Night Tower, 05 Mei 2003

-------------------------------------#7

INULINU

nul
nul inul nul
nul inul inul nul
nul inul inul linu nul
nul inul inul inul linu nul
nul inul inul inul inul linu nul
nul inul inul inul linu nul
nul inul inul linu nul
nul inul inul nul
nul inul nul
nul
ah!


Night Tower, 3 Mei 2003

-------------------------------------#8

SUARADANA

Hai, suara-suara dengarkanlah
suara-suara punya suara suarakanlah
supaya
suara-suara tanpa suara bersuara
supaya
suara-suara tak bersuara bersuara
supaya
suara-suara penguasa suara
tak lagi
bersuara sesuka-suka suara
tanpa peduli
suara-suara tanpa suara
suara-suara tak bersuara
karena
suara-suara penguasa suara bersuara
adalah amanah
suara suara-suara
suara-suara punya suara
jadi
suarakanlah suara suara-suara
Jangan hanya bungkam!

Cikoko, 21 Maret 2003

-------------------------------------#9

PUISI DI DAPUR CINTA

PUISI TAHU ISI

:eliani

Aku belah Pu
Kau racik Isi

Kau rajuk Pu
Aku benam Isi

Bergemuruh Pu
Menggelegak Isi

Matanglah Pu
Tirislah Isi

Bersabarlah hasrat Puisi
Nikmati hangat Tahuisi

Depok Radja, 30 Maret 2004

-------------------------------------#1

PUISI COMBRO

Mata pisau menguliti kainmu
Tersingkap tubuh Ken Dedes
Terbukalah sebuah dunia

Kucumbu lugumu dalam kerimbunan
batang singkong luruh berantakan
buahnya menyeruak gembur tanah
hiasan dapur cinta kita

Kusibak merah oncom
Menyerbak wangi kemangi
Tersesatku dalam aromamu

Putih menyerpih di parutan waktu
kenyataan membentuk pekat adonan
gelegak minyak jalan kedewasaan

Dapur Cinta, 12 Maret 2005

-------------------------------------#2

PUISI KULIT BAWANG

Setipis kulit bawang
keyakinan memerih mata

Senyum manismu tersimpul
sehangat nasi mengepul

Tajamkan pisau kata
Retaskan uap makna

Puisiku, penaku terantuk kata

Istriku, Ajari aku di dapur cinta

Depok Radja, 30 Maret 2004

-------------------------------------#3

PUISI KEPEDESAN

: Huh hah...
Kulit cabe menyerpih di tepian
Bukan berarti telah kujawab tanya
Pedas mana biji atau kulitnya

: Huh hah...
Sebab biji lebur dalam ulekan batu
kemudian meresap bersama bumbu
sementara kulitnya merah menakutkan

: Huh hah...
Tapi itulah kehidupan sayang,
Asal Jangan sampai biji atau kulitnya
Menyelip di gigi, menganggu manis senyummu.

Dapur Cinta, 26 Agustus 2004

-------------------------------------#4

Monday, May 30, 2005

mencari kata di dinding sepi


mencari kata di dinding sepi Posted by Hello

PUISI TERHIMPIT SESAK KRL

DUA PULUH DETIK! YANG MENENTUKAN

Dua puluh detik! Pintu KRL-Ekonomi seperti lubang pembuangan yang menghamburkan segala kotoran yang sudah berdesakan dan mati-matian ditahan dari stasiun sebelumnya, tapi tak bisa bernafas lega karena...
Dua puluh detik! itu juga, pintu KRL-Ekonomi seperti lubang perawan yang diperkosa bertubi-tubi tanpa kenal ampun oleh hasrat yang berdesakan dan tak bisa menunggu kereta berikutnya, karena kesempatan adalah...
Dua puluh detik! yang tidak boleh disia-siakan, setelah sekian lama menunggu dalam ketidakpastian, tanpa ada perhatian yang menenangkan, tanpa ada pemberitahuan yang memberi harapan, dan dalam...
Dua puluh detik! penumpang hanyalah kotoran yang tersia-sia, dan selamanya dalam…
Dua puluh detik! kita akan memperkosa dan terus memperkosa.

Depok - Cawang, sebuah perjalanan panjang

-------------------------------------#1

SENJA DI KERETA
:episode koran sore

Terkantuk dalam himpit sesak
Ketika gemuruh kereta berderak
Kudengar suara lantang menyeruak

"Pembaruan... Pembaruan..."

Oh, inikah secercah harap
dari rasa was-was yang kudekap

"Pembaruan... Pembaruan..."

Apakah angin segar itu akan tiba
Usir derita anak bangsa kelas tiga

"Pembaruan... Pembaruan...
Terbit seribu Harapan"

KRL Depok - Cawang, suatu senja

-------------------------------------#2

SEPARUH TERTUTUP PINTU KELUAR

Pisau lipat mengganjal pintu kereta
Seribu tanya merayapi sesak dada
Bersandar lelah pundak lelaki muda

"Jangan pernah kau jamah mimpiku"
Seorang anak terisak dipeluk ibunya
"Telah kubagi separuh jalan keluar
Apek keringat menjalari gelap malam

"Jangan pernah berharap terlalu banyak"
Wajah-wajah lusuh menyelip mendesak
"Sampai satu stasiun pisau kucabut"

[Dalam kegelapan KRL Cawang-Depok]

------------------------------------- #3

BUKALAH PINTU HATIMU SAYANG...

Bukalah pintu hatimu sayang...
Sebab hatiku ingin jua terbawa
Tapi apalah daya, pintu hatimu
tertutup sejak stasiun pertama...

Di pintumu aku mengetuk...
Tundukanlah angkuh yang meraja
jiwa, di pintu lain penuh sesak
masihkah tega berjudi gelegak...

Di pintumu aku mengetuk...
Mari kita berbagi rasa
agar sesak dan lapang
milik kita semua...

KRL Cawang – Depok

------------------------------------- #4

AIR MATA PEREMPUAN

Airmata perempuan menyusuri malam

Kalau boleh aku menyalahkan.
Aku akan mengutuk keterlambatan kereta
Hingga selalu ada alasan suamiku pulang larut malam

Airmata perempuan menetesi kelam

Kalau boleh aku menyalahkan.
Aku akan mengutuk sesak kereta
Hingga tak ada alasan untuk bertanya
Ini rambut milik siapa?

Airmata perempuan membasahi tilam

Kalau boleh aku menyalahkan.
Aku akan mengutuk penat kereta
Hingga tak pernah tercium wangi aroma perselingkuhan

sweetriver, awal april 2005

------------------------------------- #5

SUATU KETIKA DI PAGIMU

Angin mendesah
Hembusan lembut
Si bibir merah

Tahuisi mengepul
Akar kecambah menyembul

Apakah pagimu datang tergesa?
Hingga tak sempat kau keringkan
Rambut panjang terurai basah
Angin tersipu mendesah

:Gigitlah secuil puisiku

Sta Depok Lama, 29 Maret 2005

------------------------------------- #6

KANGKAWIN KAWIN

CINCIN KAWIN KUBUNGKUS CAWAT

Cincin kawin kubungkus cawat
Cinta merasuk ke titik gawat
Untaian janji merajuk terikat
Menapak isyarat jejak tercatat
Tak sekedar menjaga syahwat
Awal baru menuntut terawat

Imlek, 22 Jan 2004

------------------------------------- #1

PENYAIR KAWIN

Belum lagi semaian kata menuai bunga
Terkulai pena meniti lembaran desah
Menghambur tinta menukik lelah
Penyair mati dalam kubangan sperma

Bendera kuning tak perlu dipasang
Senyuman manis menanti di ujung gang
Jalan setia mengantar pergi pulang
Kelokan langkah membunuh sepi bujang

Cinta bukan lagi rangkaian kusut kata
Belaian sayang mengurai mimpi nyata
Selembut wajah lelap di tipis dada
Sehangat ciuman hinggap di baju kerja

Masih perlukan goresan tinta
Merangkai bisu ragu terbaca
Bila cinta tulus mendekap
Bila hidup menuntut harap

Kupu Raja, 27 Februari 2004

------------------------------------- #2

KAKAWIN I

Seharian memeras peluh lelah
Merangkai harapan merindukan cerah

Senja terantuk sesak memerah
Laju kereta berderak resah

Jejak terseret lengket tanah
Ujung gang beraroma sampah

Pintu membuka bibir merah
Membasuh letih membelai desah

Tubuh malam terkapar payah
Terhempas hasrat mimpi indah

Pagi menerbitkan ayunan langkah
Senyum manis terurai basah

Kekupu Radja, 27 Des 2004

------------------------------------- #3

KAKAWIN II

Sepertinya puisi harus menunggu
Terkelupas bersih beragam bumbu

Sepertinya puisi mengendap dulu
Tergerus halus ulekan batu

Sepertinya puisi mendekap ragu
Terisak minyak terbakar tungku

Sepertinya puisi berpeluk rindu
Terhanyut lelap dekap istriku

Kekupu Radja, 27 Des 2004

------------------------------------- #4

JAKARTA DALAM PUISI

WAKTU UNTUK PENYAIR

Di atas bus tersendat melaju
Ijinkan Aku menyeru
Mengeja Chairil mengetuk kalbu

Sebab sudah sampai waktuku
Bukan aku ingin merayu
Ini jeritan hati kecilku

Buldozer menggusur rumahku
Menjadi kumpulan yang terbuang
Anakku di Cipto meradang
Tertembus peluru menerjang

Kularutkan hati hampa menghiba
Daripada menjadi binatang jalang
Kemana lagi menyeret langkah
Bila kaki keadilan terinjak-injak

Sebab sudah sampai waktuku
Kumau tak seorang 'kan mengganggu
Tidak jua kau

: Tiga pengamen kecil menyingkirlah
Taruh kembali alat musikmu
Aku datang lebih dahulu

Luka tak bisa kubawa berlari
Sebab tak akan hilang pedih peri
Dan aku ingin Anda lebih peduli
Agar negeri ini hidup seribu tahun lagi

[Blok M - Stasiun Cawang, 31 November 2003]

------------------------------------- #1

PENDEKAR

Jika ingin menjadi pendekar
Pergi saja ke Jakarta

Kotanya membangunkan lelap
Angkutan memaksa berlari
Kemacetan melatih kesabaran
Berdesakan menguatkan tulang
Berebutan menggesitkan badan
Kerawanan mendidik waspada
Gemerlapnya menabahkan nurani

Jika ingin jadi pendekar
Pergi saja ke Jakarta

Tapi jangan salahkan
Kalau jadinya BAJINGAN!

Imlek, 22 Jan 2004

------------------------------------- #2

SARBINI

Ketiak pembangunan menghimpit balai tua
Padahal belum kutahu kebesaran di balik nama
Sejarah sudah terlipat di kantong belanja
Jejak-jejak memaksa langkah ke Plaza

Lumut perkotaan mengikis kerang renta
Mulut keserakahan menghisap darah bunda
Mungkin kita harus belajar menjadi durhaka
Sebab sejarah hanyalah bangunan tersia

Haruskah ini kukabarkan sebagai duka?
Biar lebih sesak dada Tugu Pancoran
Meratap pedih terjepit kemacetan
Menunjuk cermin kekerdilan bangsa

Press Room BPPT, 26 Februari 2004

------------------------------------- #3

JAKARTA 12

Ketika jarum panjang pendek membius dua belas tergesa gedung gedung megah jangkung merunduk mencium deretan kaki lima bersama aliran denyut lift yang bekerja extra membawa berjuta hasrat kerinduan yang terbang bersama debu debu menempel memberi salam hangat pada makanan minuman kemudian cerna bersama gesit terbang laler laler ijo ngiler kucing kucing buduk menyengatkan bau busuk air hitam comberan di bawah kaki kaki kita tempat berjuta juta muntahan sperma calon anak anak kita mencoba berjuang mempertahankan hidup bersama jentik jentik melawan larutan sabun detergen limbah limbah ikan ikan sungut lele dumbo monster monster terseleksi tumbuh besar di gorong gorong dan setiap saat muncul menghentak kesadaran kita dalam ratap tangis menghiba belas di bus bus kota perempatan jembatan penyeberangan pasar pasar masjid masjid deretan kaki lima tapi terlalu biasa hingga lahap tak terusik karena faktamorgana berlalu begitu saja bersama lambaian tangan dan di saku kita terlipat rapi dasi kesombongan kemudian dinding gedung gedung tinggi jangkung mengurung rapat segala rahasia asal usul kita.

BPPT Building, 20 Juni 2003

------------------------------------- #4

ANDAI LANGIT BISA DIBERI WARNA-WARNI

Andai langit bisa diberi warna-warni
Pasti terseok perjalanan matahari
Menyibak gugusan iklan memenuhi

Andai langit bisa diberi warna-warni
Pasti ringan langkah kaki bidadari
Menuju mall di kaki eskalator pelangi

Andai langit bisa diberi warna-warni
Pasti berbinar wajah sang rembulan
Dibujuk rayu bintang sejuta kejutan

Andai langit bisa diberi warna-warni
Pasti tersesat terbang burung-burung
Terkecoh permainan harga melambung

Kekupu Raja, 22 September 2003

------------------------------------- #5

TRALALA TROLILI

(Brigade Trolley berderak menuju medan perang)

Tersenyumlah, sayang
sebab belanja harus senang
kalau tidak, ya belajarlah untuk riang
sebab membeli itu masalah gampang
tak ada cash, kreditpun ditawarkan.

Lihatlah barang-barang yang menggiurkan
dengan label-label harga yang menantang
penuh sesak dengan angka sembilan
ditambah discount yang selalu menjanjikan
plus hadiah utama yang mengejutkan
dan hadiah hiburan yang menarik perhatian
tinggal menghitung jumlah kelipatan.

Pasti paling murah sayang!
sebab bila ada yang lebih murah
selisihnya akan dikembalikan.
Jadi pasti paling murah sayang!
negeri kita memang kaya raya
rakyatnya makmur sejahtera
mereka patuh mengantri
jajaran puluhan kasir tertata rapi.

Tersenyumlah, sayang
dekaplah katalog harga barang
hanya itu yang sanggup kita bawa pulang
eskalator nasib selalu bergerak
suatu saat kita buat rumah penuh sesak.

(Tapi, kapan kita punya rumah sayang?)

Hypermarket, 11 Sept 2003

------------------------------------- #6

DI HITAM ASPAL TUBUH TUAMU TERKAPAR

Kita kembali papas dalam letih waktu
derit roda gerobak sampah sarat sampah
kehidupan langkah kaki tak sempurna menuntun
seok dua lengan tipis kerontang letih
topang sandaran kosong wajah rentamu

Kamu tak menyapa
Aku tak menyapa
Kita memang tak saling kenal

Pak tua, ada dosa yang harusnya
kumintakan maaf waktu lalu...

Di sudut persimpangan tertoreh
luka di kepala mengucur darah
simbah sayatan benda tajam menganga
jerit gadis kecil dalam tangis panik
guncang badan lemahmu tiada daya
kapar di hitam aspal...

Hasrat naluri ulurkan tangan
berdegap diguncang pertimbangan
ragu yang harusnya tak datang
tikam nurani melaju gegas...

Hanya karena yang lain berlalu
kubiarkan nyaring peluitmu
terbungkam di sepi halaman parkir...

Roda-roda yang mengharap tempat
celah yang menanti rejeki kembali
nyaring dihembus mulut-mulut muda

Mereka tak menyapa
Aku tak menyapa
Kita memang tak saling kenal

Night Tower, 13 April 2003

------------------------------------- #7

PUISI TENGAH MALAM

Ayam jantan...
Berita apa yang kau bawa
Lewat kokokmu yang mengusik tengah malam
Apakah kau terkena tipu daya Dayang Sumbi
Yang begitu takut pada kekuatan Sangkuriang
Yang terus saja menyelesaikan pembangunan kota

(Kalau benar... katakan padanya
bahwa tiang pancang tak akan pernah berhenti
memperkosa Jakarta...
Dan itu berarti ia tak perlu menyerahkan tubuhnya)

Ayam jantan...
Berita apa yang kau bawa
Lewat kokokmu yang mengusik tengah malam
Apakah kau tergoda wangi kupu-kupu
Hingga birahi mengusik lelapmu

Ayam jantan...
Sebenarnya berita apa yang kau bawa
Lewat kokokmu yang mengusik tengah malam
Ada janda atau perawan bunting?
Tapi mengapa kokokmu terlalu sering

Cikokok 30 Oktober 2002

------------------------------------- #8

HARDWARE POETRY

KEYBOARD

Kuharap susunanmu tak pernah berubah.
Hingga mata perihku tak perlu melihat
Hingga mata jiwaku bisa bebas mengembara
Hingga pikiran kusutku bisa jernih mencerna
Hingga tangan letihku tak sesat melangkah
Hingga kata hatiku bisa terbaca.

------------------------------------- #1

CPU

Bagaimana engkau bisa begitu pintar?
Memahami gejolak setiap hentakan tombol keyboard
dan setiap gerak langkah klik mouse
kemudian menceriterakan semua pada layar monitor.

Bagaimana engkau bisa begitu setia?
Merangkum berjuta data
mengendapkannya sebagaimana sejarah
untuk setiap saat dibuka dan dibaca
oleh ingatan lusuh manusia.

------------------------------------- #2

MONITOR

Kutatap kedipmu...
Bertahanlah dan jangan pernah lelah
karena aku ingin engkau setia
menemani perjalanan kata-kata

Kutatap kedipmu...
Jujurlah dan jangan pernah bosan
karena aku ingin engkau menjadi cermin
hingga aku bisa mengoreksi
segala kesalahan.

------------------------------------- #3

FAKSIMILE

Mesin faximile mengerang, seakan meminta perhatian.
Selembar kertas khusuk menjalani ritualnya.
Keluar perlahan tapi pasti, mili demi mili,
seiring luka torehan mata head.
Ikhlas... demi berbaris pesan, yang harus segera disampaikan.

------------------------------------- #4

PRINTER

Entah sudah berapa juta kata
Kau pindahkan dalam lembaran kertas

Entah sudah berapa juta gambar
Kau lukiskan dalam lembaran kertas

Tapi kau tak pernah bertanya
: Apakah ini sebuah kerja yang bermakna?

------------------------------------- #5

LX-800

Suara eranganmu seperti sebuah beban berat.
Menyeret kepala logam yang terlunta-lunta
sambil tak lelah menghentakkan jarum-jarum
dan segulung pita siap menerima nasibnya
membekaskan luka hitam pada lembaran kertas.

Suara eranganmu berpacu dengan waktu
: seperti menguji kesabaran
dari lembar-lembar perjalanan hidup
yang selalu saja tergesa.

------------------------------------- #6

HP LASERJET

Pada siapa engkau belajar
hingga begitu cemerlang menerjemahkan data
yang dirangkai dengan payah
kemudian memindahkannya menjadi gambar dan kata
dalam lembar-lembar dengan hitungan detik
hanya dengan energi pemanasan tinta.

Mungkin karena kau bekerja tanpa beban
: Masa lalu tak pernah ada
dan ingatan menghilang
bersama laju kertas.

------------------------------------- #7

3G Building, Cikoko Jan 2003


mencari kata di dinding sepi Posted by Hello

Friday, May 27, 2005

PENCARIAN PUISI

MENIMANG PUISI

Puisi hanyalah kegelisahan jiwa perawan
di tengah malam sepi
ketika mata tak juga bisa terpejamkan.

Kutimang kau dalam galau jiwaku
Tak lela lela lela ledhung
Tidurlah…. Tidur....

Mata penaku lelah menyusuri kedalaman lembah kata-kata
Tinta hatiku membeku dalam puncak pencarian makna
Akan kuseret kemana lagi langkah ini?

Ah, aku bisa gila memikirkan puisi

(Hai penyair yang sudah ternama dan punya nama
Dengarkanlah betapa aku begitu tersiksa)

Manusia biasA, Jati bening! 21 Juni 2002

------------------------------------- #1

MANTRA PUISI

Selarik kata
Seluruh jiwa
Selirik makna
Selirih suara

Abjad
Abjadilah kata
Terang
Terangkailah makna
Kata
Katakanlah KEBENARAN!

Manusia biasA, Pancoran! 28 Oktober 2002

------------------------------------- #2

MANUSIA BIASA

Keberadaanku ada
Walaupun kadang aku merasa ditiadakan
Ketiadaan pada ada
Sendiri. Sepi. Tersudutkan.

Bisa saja keberadaanku ada
Ketika pilihan membentur kata "akhir"
Ketika siapa-siapa menjadi "tidak ada"
Ketika keadaan menjumpai "siapa lagi"
Ketika kata-kata mengalirkan duka

Kudekap kesendirian
Hingga wajahnya tidak lagi menakutkan
Kegelisahan kusikapi dengan bersahabat
Kukenalkan pada mereka yang selama ini "lari"
Karena itu aku memutuskan untuk "BEDA"

Anywhere, Anytime

------------------------------------- #3